2015/06/28

Surat yang Tak Pernah Terkirim

Terlihat lemas jemari menjentikkan kepada sang keyboard dan layar yang terus menatap seakan menjadi teman dalam sepi dari mata terbangun hingga terlelap.

Begitu membosankannya...

Berkutat dengan dunia maya, yang seakan bisa aku lihat akan gerakmu.
Karena lewat dunia nyata, aku tidaklah cukup mampu mengimbangi jalanmu. Yang semakin lama semakin tidak pernah tahu.

Inginku memiliki alasan tersendiri agar memiliki waktu berbicara denganmu lebih lama, bukan hanya 1 detik saja, atau cuman sekedar bersapa. Hai!

Menanyakan bagaimana harimu, ingin mendengarkan keluh kesahmu tentang dunia yang semakin mencekik ini, dan perasaan yang tercekik ini...

Melihatmu tertawa ketika menceritakan sesuatu hal yang lucu bagimu, dan itu membuatku turut tersenyum riang, meski tidak pernah aku perlihatkan begitu gembira, senang, semua bercampur aduk jadi satu perasaan, hanya saja aku kagum.

Kagum dengan bias sinar wajahmu yang anggun ketika kau berbicara, dengan medokmu yang kental banget... Ohh Tuhan, dia terlalu indah untuk disebut bidadari...

tidak ingin kusentuh mawar itu Tuhan, biarkanlah ia tetap mawar bagi semuanya. Biarkan rasa cintanya hanya untukmu Tuhan, biarkan rasa cintanya untuk bapak dan ibunya,
agar aku yakin, dia memang yang terindah yang pernah kutemui saat ini.

Aku pun biarkan lah berlalu seperti pungguk merindakan bulan, hingar bingar suara pun seakan tak bergeming, saat aku merindukannya. Hanya saja, doaku kupanjatkan kepada-Mu, agar engkau mengirimkan surat yang romantis ini, perlahan, bait-perbait biarkan suara doaku memeluknya disetiap harinya, disetiap helaan nafasnya. bantu aku memeluknya hingga terlelap dalam tidurnya,
peluk dia untukku, peluk dia dengan semua rahmat dan karunia-Mu, curahkan kepadanya.

Saatnya aku menemukan titik balik hidupku, keluhku takkan kau dengar lagi, aku belajar banyak darimu, aku belajar lebih baik saat aku mengenalmu, dan aku sangat beruntung, mengenal perempuan anggun sepertimu,
aku harap keadaan kita berbeda jika aku telah siap menjadi imammu, dan aku akan menanyakan kepadamu. "Maukah kamu menyisakan waktumu untuk kita berjalan bersama?"

Untukmu DISA...

28-06-2015 23:33 Sunday...

2015/02/24

Secarik Kertas Bodoh

bagaimana aku memulai kisah kali ini yah?

Itu dimulai saat aku membuka dompetku. Ada sesuatu yang terselip, seperti kertas berwarna biru. Hanya saja aku lupa kertas apa yang pernah aku masukkan ke dalam dompet yang tipisnya hampir menyamai kertas itu sendiri. Ya itulah aku, mungkin memang tidak terbiasa menyimpan uang kedalam dompet, padahal beberapa orang yang aku kenal selalu saja tidak henti menasehatiku agar uang itu kalo ada masukin ke dalam dompet, kalo gak ada yah gak usah di masukin, gitu aja kok repot sih. (-_-)"
termasuk orang itu, iya orang itu juga yang memasukkan secarik kertas tipis berwarna biru yang aku pegang ini.